Dapat mungut dari pesbuk salah seorang ‘teman’ ketika main di Jogja.

Dapat mungut dari pesbuk salah seorang ‘teman’ ketika main di Jogja.


Kata ‘neng itu’, suasana hujan akhir-akhir ini bikin mellow. Tentu saja Anda boleh berpendapat macam-macam. Bisa setuju, bisa juga tidak. Namun nampaknya hujan ini membuat saya semakin malas mellow-kukan apa-apa, kecuali melihat dunia lain alias tidur. Hihihi.
Berhubung saya terlanjur berjanji (dengan diri saya sendiri tentunya) untuk ‘ngantor’ hari ini, apa mau dikata. Meskipun malas masih menyerang, ‘mellow thing’, saya paksakan tetap masuk dan duduk manis di depan komputer sampai saya bosan atau rasa kantuk menyerang. Alhasil, meskipun di depan kompie, tak ada aktivitas produktif yang dihasilkan. Hanya jalan-jalan, ber-facebook ria sampai melampauhi batas ‘hehalalan’, plus baca-baca berita lewat googleReader.
“Gimana kalau tiba-tiba Ibu atau bos Anda join ke facebook, dan jadi teman Anda? Kan nggak enak ya, status, dinding, bahkan foto yang di-tag teman-teman Anda diliatin sama ‘mereka’.”, itulah artikel yang saya singgahi. Saya jadi ingat salah satu sketsa (kalau pinjam istilahnya ExtraVaganza) di salah satu episode The IT Crowd, yaitu FriendFace (salah satu episode kesukaan).
“My mum’s on FriendFace, my mum! It’s opened up another channel of communication with my mum.”
“Isn’t that good?”
“No, it is not good. She’s put down her current mood as ’sensual’.”
“Why didn’t you just not accept her as a friend?”
“Are you an animal? I can’t turn down a friend request from my mum.”
Untungnya si facebook sudah menyediakan pengaturan untuk hal ini. Misalnya siapa saja yang bisa memantau status Anda, siapa saja yang boleh membaca pesan dinding Anda, dsb. Yang perlu dilakukan adalah mengakses Setting -> Privacy Setting -> Profile. Silakan atur-atur saja, apa dan siapa yang boleh melihat apa. Demikian acara mellow kita hari ini. :p
Kategori: Komputer · Sampah
Ditandai: facebook, friendster, The IT Crowd
Lagu itu cukup populer di lab. kita beberapa waktu yang lalu. Hampir tiap saat lagu itu berkumandang. Maklum, paling tidak ada dua makhluk yang biasa memainkan itu lagu. Berhubung mereka berdua telah meninggalkan dunia fana ini ruangan itu, sehingga lagu ini tidak berkumandang.
Persahabatan bagai kepompong,
Mengubah ulat menjadi kupu-kupu.
Persahabatan bagai kepompong,
hal yang tak mudah berubah jadi indah.
Persahabatan bagai kepompong,
maklumi teman hadapi perbedaan.
Persahabatan bagai kepompong,
na na na na na..

*)Diambil dari the Simpsons season 14 episode 13, “A Star is Born Again”. Semoga tidak melanggar hak cipta :p
Kategori: Sampah · Selingan · Song of the Day
Ditandai: the Simpsons
Saya termasuk orang yang tidak pinter (tidak punya nyali) untuk nyebrang jalan. Apalagi jalan tersebut ramai sesak oleh kendaraan yang melaju dengan kecepatan tinggi. Maklum, refleks kaget saya kadang aneh, malah mengikut ke mana kendaraan akan lewat. Kan nggak lucu kalau saya nyebrang trus ketabrak, trus almarhum, trus di nisan saya ditulis: “orang bego yang nggak lulus nyebrang jalan” 1. Jadi, saya harus super hati-hati kalo mau nyebrang jalan.
Lain saya lain pula kucing. Petang itu, setelah adzan maghrib dikumandangkan, ketika kegelapan mulai menyelimuti sudut kota, ketika ayam-ayam mulai rabun, ada seekor kucing dan anaknya hendak menyeberang jalan Wastu Kencana yang ramai. Kita tahu kalau jalan Wastu Kencana ini satu arah, sehingga kendaraan yang lewat situ cenderung ngebut. Selamatkah dia sampai di seberang jalan?
Saya juga penasaran. Akhirnya saya tungguin itu kucing nyebrang. “Tap-tap”, kucing tersebut melangkah dengan pastinya. Seakan-akan tidak memperdulikan kendaraan yang lalu-lalang. Jangan-jangan dia santai karena merasa punya sembilan nyawa. Kalau mati satu, masih punya delapan nyawa cadangan. Eits, ada motor melaju kencang mendekati kucing itu. “Nabrak, nabrak, nabrak”, dalam hatiku [diam-diam saya jadi orang yang kejam]. Selisih beberapa langkah dari kucing itu, si motor dengan lincahnya bermanuver menghindar dan si kucing selamat sampai di tengah jalan.
Masih setengah perjalan, si kucing tanpa istirahat langsung meneruskan perjalanan. Tidak lama kemudian datanglah taksi dengan kecepatan tinggi. Ini yang agak tricky dan semakin membuat saya deg-degan. Jangan-jangan dia nggak lihat, karena suasana remang-remang seperti ini justru membuat terlena. Tanpa dinyana dan diduga, ternyata taksi tersebut mengerem mendadak sampai keluar bunyi “ciit” dan untungnya taksi itu bisa berhenti beberapa jengkal dari kucing yang masih berjalan dengan santainya. “Keren!”, pikir saya.
Yaa, berakhirlah drama di petang itu. Untung saja tidak terjadi kecelakaan. Konon katanya, ada mitos kalau nabrak kucing (sampai kucingnya mati) dia akan dapat bencana. Mulai dari kendaraannya macet, sampai dia si manusia kecelakaan pula. Berbeda halnya di Amerika (U-Ass-A), menurut suatu majalah [duh, lupa namanya plus lupa pula edisi kapan] ada binatang yang menjadi ‘pembunuh’ nomor satu di sana. Kira-kira binatang apakah itu? Aligator? Ular derik? Ternyata bukan. Jawabannya adalah kijang atau rusa. Kok bisa? Kijang-kijang ini tenyata suka menyeberang jalan. Entah karena lihat rumput tetangga yang lebih hijau atau hanya sekedar safari. Pas dia nyebrang, ada mobil yang lewat & terjadilah kecelakaan maut itu. Kecelakaan yang merenggut nyawa penunggang mobil.
fin!
1 Nyontek AIMA hal. 32 tentang omniscience.
Kategori: Daily Life · Sampah
Ditandai: Cat, Deer