午前 の 日記

Jejak langkah jalan sunyi

Archive for Januari 2008

Mbah, sampun sedo dereng?

with 2 comments

Saya kemarin dikagetkan dengan berita meninggalnya salah satu teman saya. Teman yang saya kenal baik sejak SMA. Beritanya agak samar-samar, sehingga memaksa saya untuk mem-verify kebenaran berita tersebut. Voila, ternyata saya masih menyimpan kontak teman saya ini. Akhirnya langsung saya sms dia, basa-basi nanya kabar. “Pesan telah disampaikan”. Ah, kayaknya dia masih hidup, soalnya nomernya masih aktif. Setelah saya tunggu beberapa menit, jam, sampai berganti hari, blum juga ada balasan. Duh, jangan-jangan…

Akhirnya, sore harinya (next day) datang juga balasan dari dia. Dia protes kenapa semalam HP saya tidak bisa dihubungi. Ow, gara-gara HP saya yang diem-diem off-line, pesan yang saya nantikan jadi tertunda. Alhamdulillah, ternyata dia tidak apa-apa alias sehat wal afiat. Justru dia kaget dan balik tanya, “dapat kabar dari mana”. Ehm, ternyata saya dapat rumor yang tidak jelas. Hehe.

Setelah beberapa saat, saya jadi geli dan tertawa. Oh my God, what have i done?. Coba bayangkan misalnya Anda cucunya pak Harto (actually, pak Harto meninggal beberapa hari yang lalu). Anda berada ribuan mil jauhnya dari kakek Anda ini dan hanya berbekal nomor HP simbah dan beberapa koleganya. Suatu saat Anda dapat kabar (rumor) kalau simbah ini tilar ndunyo (meniggal). Karena saking paniknya, Anda sms simbah Anda isinya kira-kira seperti ini, “Mbah, njenengan sedo mboten?” (Kek, Anda meninggal tidak?). Yaa, kalau nasib Anda lagi baek, mungkin saja Anda akan dapat jawaban, “Leres le, simbah sampun ten Astana Giri Bangun sak niki. “.

Alamaak jaang!;

Written by Agust

Januari 31, 2008 at 20:08

Ditulis dalam Murmuring

Tagged with ,

Sepatu

leave a comment »

Akhirnya saya dapat juga pengganti sepatu yang dulu. Tentunya setelah perjuangan yang cukup berat. Setelah jalan-jalan sekian lama (sambil ngecengin sepatu tentunya) akhirnya saya putuskan mampir di toko langganan dan beli aja sepatu di sana.

Kalau dipikir-pikir sepatu saya yang lama masih bisa dipakai dan saya masih ingin menikmatinya sampai titik darah penghabisannya si sepatu, meskipun sepatu tersebut sudah lubang dan mendatangkan masalah kalau hari hujan. Namun keadaan justru memaksa saya untuk ganti sepatu. Bukan si maling yang usil mengambil sepatu butut saya, namun seekor kucing yang iseng menaruh urinnya di sepatu saya. Walhasil, baunya minta ampun dan akhirnya saya ikhlaskan sepatu butut saya untuk ‘pensiun dini’.

Akhirnya saya putuskan untuk mengamarkan sepatu saya. Bukan karena takut dimaling orang, tapi takut dikencingi lagi oleh si kucing. D’ouh!!

end@12.01.2008 22:15

Written by Agust

Januari 17, 2008 at 15:32

Ditulis dalam Murmuring

Tagged with ,