午前 の 日記

Jejak langkah jalan sunyi

Archive for the ‘Satire’ Category

Sugali

leave a comment »

Ramai gunjing tentang dirimu
yang tak juga hinggap rasa jemu
suram hari depanmu.

Rasa was-was mata beringas
menunggu datang peluru yg panas
di waktu hari naas.

Written by Agust

April 1, 2010 at 07:25

Ditulis dalam Satire, Song of the Day

Tagged with ,

Sensitif

leave a comment »

Di suatu pagi yang agak mendung dan mengandung hawa dingin:
Why’re you so insensitive?
What??. Plis deh! Saya kan cowok. Mana bisa saya sesinsitif sampean yang lg PMS.”

Written by Agust

Desember 20, 2008 at 20:40

Doa (Yang tidak Mengancam*)

with 7 comments

Engineer merupakan makhluk yang presisi. Setiap lorong kehidupannya penuh detail uraian serpihan pikirannya. Tapi kadang malah lupa dengan yang esensial. Seperti halnya yang terjadi di Jumat sore itu. Selepas shalat asyar, manusia itu langsung murmuring melafalkan wirid yang biasa ia baca sehabis shalat fardlu. Setelah itu dia langsung berdoa dengan khidmad (karena dia tahu kalau saat itu adalah saat yang mustajab, saat terkabulnya doa). Lantunan doa-doa itu adalah:

Ya Allah, saya butuh W380i. Bentuknya flip, ada kameranya, bisa muter lagu, bisa GPRS dan bisa basa jawa sehingga saya bisa ngejalanin shMessenger, biar saya tetap bisa YM-an di sana-sini. Sebenarnya sih saya pengen yang W980i, tapi kayaknya kemahalan. Jadi ya W380i saja sudah cukup. Saya sudah “marem” kok. Toh “simbak itu” juga pake W380i.

Ya Allah, saya butuh istri baru! Sampean kan tahu, saya belum punya istri sama sekali. Satu istri dulu juga cukup. Speknya se muslimah, berpenampilan menarik, menguasai .NET atau J2EE, diutamakan yang memiliki sertifikasi CCNA atau Oracle. Eh maaf, ketuker sama lowongan programmer di kantor saya.

Ya Allah, saya butuh lolos test S2 nih. Nggak enak sama si bos kalo sampai nggak lolos. “Isin aku rek”. Sampean kan tau juga kalo si bos sudah bela-belain “ngasih” uang buat pendaftaran.

Ya Allah, saya pengen punya rumah pohon seperti yang di New York Times itu lho. Nggak papa lah kalo saya nanti dipanggil tarsan, yang penting saya bisa nangkring di atas pohon itu sambil coding dan mendengarkan simbak Mariah Carey melantunkan lagu Bye Bye. Sesekali nyeruput teh anget atau kopi hitam dingin.

Nampaknya engineer ini kelupaan pada satu permintaan terpenting, yaitu minta diampuni dosa-dosanya.

*) Tidak ada hubungannya dengan film “Doa Yang Mengancam” yang diperankan oleh Aming. 😛

Written by Agust

November 9, 2008 at 23:42

Ditulis dalam Satire, Soliloquy

Tagged with